SGE Dongkrak Daya Beli dan Pendapatan

Jumat, 10 Ags 2018 | 18.30 WIB

SGE Dongkrak Daya Beli dan Pendapatan

Stan pelayanan Pemkot Surabaya di SGE (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Bersama Asosiasi Perusahaan Penyelenggara Pameran dan Konvensi Indonesia (ASPERAPI) DPD Jatim, Pemkot Surabaya menggelar pameran Surabaya Great Expo (SGE) 2018. Sampai saat ini, acara yang selalu sukses tersebut sudah memasuki tahun ke-9. SGE ini akan digelar mulai 10-14 Agustus 2018 di Atrium Mall Grand City.

Disampaikan Kepala Bidang Pemasaran Dinas Perdagangan Kota Surabaya Joko Sulistyo, jumlah stan yang ikut serta dalam acara SGE sebanyak 83 UKM. “Semua stand UKM sudah terisi 100 persen bahkan kita sampai menolak,” kata Joko. 

Sementara Pemkot Surabaya membagi stand menjadi 3 bagian dengan tema berbeda. Seperti untuk produk fashion, informasi pelayanan perizinan dan informasi pariwisata serta handycraft. Selain itu ada tema lingkungan hidup, pertanian, perbankan dan pelayanan air bersih.

Dia optimistis, warga Surabaya dan luar Surabaya antusias mengikuti SGE yang dimulai pukul 10.00-22.00. Bahkan, dirinya menargetkan ada kenaikan jumlah pengunjung serta transaksi SGE 2018. “Karena pengunjung bisa masuk secara gratis, terlebih acaranya juga digelar di mal maka kami targetkan jumlah transaksi mencapai Rp40 miliar dan jumlah pengunjung mencapai 25 ribu orang,” urai Joko.

Selain pameran produk, Pemkot Surabaya juga menyediakan beberapa konsultasi pelayanan publik seperti Dispendukcapil, SIUP TDP, pihak rumah sakit (tes darah) dan PDAM. Selain itu ada seminar terkait ilmu kecantikan dan perancangan busana. “Bentuk layanan dan fasilitas tersebut bertujuan untuk mendekatkan hubungan antara instansi pemerintah dengan masyarakat,” tandasnya.

Dari gelaran ini, diharapkan para peserta terus mengembangkan usahanya dengan tidak berpatokan pada event ini saja, melainkan membangun hubungan interaktif dengan peserta yang lain. “Jangan hanya berpangku tangan, tetapi manfaatkan kegiatan yang lainnya. Siapa tahu ada order-order besar menanti,” pungkasnya. (windhi) 

Sementara Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang membuka pameran SGE 2018, mengawalinya dengan pemukulan gong. Menurut Wali Kota Risma pada 2010 (awal dirinya menjabat sebagai wali kota), daya beli masyarakat rendah dan ada di kisaran 43 persen, menengah atau sedang berada di kisaran 42 persen dan sisanya merupakan daya beli tinggi.

Namun, pada 2016 dilakukan survei, daya beli masyarakat yang rendah tinggal 8 persen. Kemudian yang sedang turun jadi 41 persen. “Itu artinya melompat jauh dari daya beli yang rendah ke daya beli yang tinggi. Padahal seharusnya kan dari rendah ke menengah dulu, nah ini tidak, langsung melompat ke tinggi. Jadi, berarti telah terjadi pergerakan ekonomi yang sangat cepat,” kata Wali Kota Risma dalam sambutannya.

Selain itu, pada saat awal-awal menjadi wali kota, pendapatan asli daerah (PAD) Kota Surabaya hanya mencapai Rp900 miliar. Tapi saat ini, PAD Kota Surabya sudah Rp5 triliun lebih. “Jadi, kalau dulu komposisinya di Pemkot Surabaya PAD 40 persen dan 60 persen dari sumbangan pemerintah pusat dan provinsi. Tapi sekarang terbalik, kami 60 persen PAD, dan 40 persennya dari pemerintah pusat dan provinsi,” tegasnya. (windhi/by)