Dibalik Viralnya Rujak Cingur Bu Mella, Ada Rasa dan Perjuangan Istimewa

Rabu, 16 Okt 2019 | 23.41 WIB

Dibalik Viralnya Rujak Cingur Bu Mella, Ada Rasa dan Perjuangan Istimewa

warung Rujak Cingur Bu Mella (istimewa)


Centroone.com - Berbicara kuliner Surabaya, tidak akan lengkap rasanya tanpa rujak cingur. Meski juga dikenal di luar Surabaya, rujak cingur tetap salah satu makanan khas Surabaya - dimana di setiap sudut kota, bisa dipastikan terdapat warung rujak cingur. Salah satunya bahkan sempat jadi viral dan perbincangan hangat para pecinta kuliner. 

Adalah Marmila, wanita paruh baya ini sudah lebih dari 25 tahun menjalani usaha kuliner khas Kota Pahlawan satu ini.  Pemilik warung Rujak Cingur Bu Mella ini sempat viral karena rujak cingur buatannya berporsi jumbo. Satu porsi rujak cingur ini cukup untuk dimakan 2 - 3 orang. 

Tidak hanya itu, rujak cingur milik Bu Mella - yang juga panggilan akrabnya -  berbeda dengan rujak-rujak lainnya. Bu Mella mengaku tidak pelit meracik bumbu maupun bahan pelengkap untuk rujak cingurnya. "Saya kalau jualan rujak ndak eman (tidak sayang) sama bumbu dan cingurnya. Saya kasihbanyak," tuturnya.  Selain itu, petis yang digunakan pun ada dua jenis, yaitu petis udang dan peti shitam Madura. "Selera pedasnya juga sesuai permintaan, bisa sampai belasan cabai," imbuhnya.

Selain rasa dan porsi yang istimewa - rujak buatan wanita yang mulai menjual rujak setelah menjadi TKI di luar negeri ini juga tenar karena harga, saat ini satu porsi rujak Bu Mella dihargai Rp 60 ribu. Menurut Bu Mella harga itu terpaut jauh jika dibandingkan dengan harga awal ia mulai berjualan rujak. "Naiknya bertahap. Dari Rp7.500 ke Rp15.000 ke Rp25.000, naik lagi ke Rp35.000, kemudian Rp55.000dan sekarang Rp60.000," ujarnya.

Soal harga, diceritakan Bu Mella - jadi viral setelah harga yang dipatok dinilai mahal. Saat itu, ia masih berjualan di pinggir jalan Raya Wiguna Timur. "Nah, waktu jualan di situ ada pembeli yang mengendarai kendaraan berplat luar kota Surabaya.Mereka berempat, makan rujak cingur dan minum es Manado. Setelah mereka selesai makan,mereka membayar dan pergi. Tapi tidak lama kemudian, mereka kembali lagi dan menanyakanharga makanan yang mereka makan tadi. Sepertinya mereka tidak terima dengan harga yangsaya beri. Saat mereka datang menanyakan itu ternyata mereka merekamnya, dan kemudian video rekaman itu tersebar di media sosial," jelasnya. 

Saking banyaknya yang memperbincangkan kejadian itu di media sosial, warung Rujak Cingur BuMella sempat didatangi Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkot Surabaya untukmengecek langsung kelayakan makanan yang ia jual. Bahkan juga menyuruh Bu Mella untukmenutup sementara usahanya demi menghindari teror yang datang bertubi-tubi. Namun kemudian, pihak Pemkot Surabaya justru menjanjikan Bu Mella tempat berdagang yanglebih layak. Apalagi setelah spanduk dan bahan dagangannya dirusak oleh oknum yang tidakbertanggung jawab. 

"Pas ramai-ramainya pemberitaan itu, saya tetap ingin buka, padahal anaksaya sudah melarang. Ternyata gerobak jualan, meja, pisang kelutuk, gelas-gelas sudah dibuang di kali. Akhirnya, Bu Lurah menyarankan untuk pindah tempat jualan, karena katanya rujak Bu Mella sedang santer disorot media," kenangnya.

Akhirnya, warung Rujak Cingur Bu Mella berpindah lapak jualan di halaman rumah kosong. Bahkan setelah pindah, Rujak Bu Mella semakin ramai.  "Saya belum datang sudah banyak yang antri. Saking ramainya justru dikomplain oleh warga. Akhirnya, Rujak Cingur Bu Mela diarahkan ke sentra wisata kuliner. Alasannya, kalau ditaruh di sentra kuliner dapat menarik pembeli untuk lapak yang lainnya juga," katanya.

Setelah resmi menghuni Sentra Wisata Kuliner Raya Gunung Anyar Sawah, Bu Mella bergabung dengan Grab Food.  Dari situ, usaha Bu Mella makin berkembang. Antrian yang dulunya penuh dengan pengunjung, kini dipenuhi oleh mitra pengemudi GrabFood yang mengantri teratur. Rujak cingurnya juga semakin dikenal banyak orang dan pelanggannya bertambah- dari pengguna layanan GrabFood.  

Tidak banyak yang mengetahui, di balik kisah viral Rujak Cingur Bu Mella, ibu satu anak ini jugadianggap sebagai seorang superwoman oleh keluarganya karena perjuangannya dalam mencarinafkah. Bu Mella setia berjualan dengan gigih demi biaya pengobatan suaminya yang sejak 6 tahun lalu mengidap gagal ginjal yang  mengharuskannya rutin melakukan cuci darah setiap dua kali seminggu. "Namanya usaha, dijalani aja lika-likunya, ramai sepi tetap disyukuri. Yangpenting sehat, karena harus menanggung biaya pengobatan suami. Kerja itu, sedikit banyak yangpenting dapat uang," ujarnya.

Bu Mella juga bercita-cita ingin membuka warung cabang rujak cingurnya. Tidak pernah terlintasdi benak pikirannya untuk berganti menu jualan. “Ini sudah sangat cocok dengan saya,"imbuhnya.

Bu Mella adalah satu dari 5 juta wirausahawan mikro yang tergabung dalam platform Grab diIndonesia. Berdasarkan hasil penelitian Riset Centre for Strategic and International Studies (CSIS)dan Tenggara Strategics di tahun 2018, mitra merchant yang bergabung dengan GrabFoodrata-rata melihat peningkatan penjualan sebesar 25% dengan rata-rata pendapatan sebesar Rp11juta/bulan.   by