IPT Dicabut, Masjid Di Ngagel Terancam Dirobohkan

Kamis, 14 Mar 2019 | 22.00 WIB

IPT Dicabut, Masjid Di Ngagel Terancam Dirobohkan

Masjid Raudlatul Falah yang berdiri megah di kawasan Ngagel. (Windhi/Centroone)


Centroone.com - Masjid Raudlatul Falah yang berdasarkan papan namanya beralamatkan di Ngagel Rejo Kidul nomor 2, bakal dirobohkan. Hal ini seiring dengan keluarnya surat dari Pemkot Surabaya yang menyatakan memblokir Izin Pemakaian Tanah (IPT) dan pihak yayasan masjid diminta menyerahkan lahannya dalam keadaan kosong. 

Tentu saja hal ini disesalkan warga sekitar, karena lahan itu akan difungsikan Pemkot Surabaya untuk fasilitas umum berupa lapangan olahraga. Sementara sesuai surat dari Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah bernomor 593/2121/436.7.11/2019 tertanggal 1 Maret 2019 perihal jawaban kepada Ketua Yayasan Raudlatul Falah beralamatkan Ngagel Kebonsari I/12-14 (sesuai IPT), bahwa di lahan seluas 1.046,40 meter persegi telah menunggak pembayaran sejak 2010 sampai 2019. Nilai tunggakan itu mencapai Rp20.440.492,70.

Namun sesuai IPT yang ada, lahan dengan nomor IPT 188.45/1986P/436.6.18/2009 tertanggal 9 September 2009 dan masa berlaku sampai 9 Desember 2012, peruntukan dan arahan pemakaian lahan untuk fasilitas umum. Sementara Pemkot Surabaya akan menggunakan lahan itu untuk kepentingan umum berupa lapangan olahraga dan area parkir.Untuk itulah, sesuai IPT yang ada dan telah berakhir masa berlakunya pada Desember 2012, sudah tak bisa lagi diperpanjang. Selain itu, pihak yayasan juga diminta membayar tunggakan yang ada ke kantor UPTSA Timur Jl Menur 31C atau kantor UPTSA Surabaya Pusat Jl Tunjungan 3 (gedung Siola) lantai 1 beserta menyerahkan lahan itu ke Pemkot Surabaya dalam keadaan kosong.

Rupanya sejumlah warga tak terima dengan pengalihan fungsi tersebut. "Ada surat dari Pemkot Surabaya yang tertulis IPT diblokir dan diminta menyerahkan tanah dalam keadaan kosong," kata Ketua Takmir Masjid Raudlatul Falah Mahrus Ichsan.

Di atas lahan itu, sebenarnya sudah lama berdiri bangunan masjid. Apalagi yang meresmikan Masjid Raudlatul Falah itu pada 21 Agustus 2011 adalah Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Keberadaan masjid telah banyak memberikan manfaat kepada masyarakat. Karena itu pihak yayasan berniat membangun tempat pendidikan di area tersebut. Namun dengan adanya surat pencabutan IPT tersebut akhirnya tidak bisa dilaksanakan. Hanya saja yang menjadi permasalahan adalah apakah masjid yang berada di lokasi tersebut juga ikut dikosongkan.

Ketua Komisi B DPRD Surabaya Mazlan Mansyur juga menyesalkan lahan yang telah dibangun masjid sejak lama dan sebagian untuk lahan parkir itu harus dikosongkan semua karena mau diubah fungsi. Padahal resume Rapat Dinas Pemuda Olahraga Kota Suranbaya pada 26 September 2014 menyebut bahwa pembangunan lapangan basket di Ngagel Kebonsari (Masjid Raudlatul Falah) Tahun Anggaran 2014 ditunda dan dicarikan lokasi lain. "Ini masalahnya sudah lama, tapi kok tahun ini ada kebijakan yang tidak sesuai dengan hasil rapatnya," tegas Mazlan. 

Untuk itu, lanjut dia, pihaknya berharap Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah membatalkan suratnya tersebut karena masjid tersebut masih digunakan warga setiap harinya. "Dengan dalih apapun ini menyakitkan umat muslim," ujar politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.

Mazlan berharap ada solusi yang bijak dari Pemkot Surabaya terkait hal ini. "Jangan sampai masalahnya memuncak dan ada gerakan. Mumpung ini warga masih bisa diajak bicara," ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Pengelolaan Bangunan dan Tanah Surabaya Maria Theresia Ekawati Rahayu belum berkenan memberikan pernyataan karena saat dikonfirmasi masih ada rapat.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan, pihaknya akan mengecek terlebih dahulu penggunaan IPT tersebut. Namun, lanjut dia, jika lahan tersebut sudah terbangun masjid, maka IPT bisa dicabut asalkan masjid dikelola oleh warga bukan yayasan. "Tentunya itu atas permintaan warga. Warga harus mengajukan permohonan dengan mengirim surat kepada Wali Kota Surabaya," kata Eri Cahyadi. (windhi/by)